Selasa, 29 Maret 2011

Imunisasi DPT


IMUNISASI DPT

1. Pengertian imunisasi

Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1611/MENKES/SK/XI/2005 imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut.

Imunisasi dasar adalah imunisasi wajib yang sesuai Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yang terdiri dari BCG untuk mencegah penyakit tuberkulosis, DPT untuk mencegah penyakit Diphteri, Pertusis dan Tetanus, imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak, imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio, dan Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B (penyakit hati) (Ranuh, 2005).

Vaksin adalah suatu produk biologik terbuat dari kuman, komponen kuman atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang (Kepmenkes RI, 2005).

2. Tujuan Imunisasi

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar (Ranuh, 2005).

3. Manfaat Imunisasi

Pada anak imunisasi mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit yang terjangkit seperti : Hepatitis B, Difteri, Batuk rejan, Tetanus, Polio, Campak. Pada keluarga, imunisasi menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.dan pada negara, imunisasi memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. (www.unicef.org)



4. Dua macam kekebalan ( cara untuk mendapatkan kekebalan )

* Kekebalan pasif

Anak diberiakan antibodi yang yang sudah dibuat misalnya : Pasien tetanus diberikan antitoksin tetanus ( imunoglobin tetanus ) Pasien difteri diberikan antitoksin difteri, Pasien karena gigitan ular diberikan antitoksi bisa ular, dll

* Kekebalan aktif

Anak membuat antibodi sendiri untuk dapat menghasilkan antibodi tertentu. Seseorang harus terinfeksi oleh penyakit tertentu baik melalui terjangkit penyakit tersebut atau melalui pemberian vaksin yang mengandung bakteri atau virus atau racun yang sudah dilemahkan. Kekebalan aktif dapat bertahan lama. Imunisasi aktif dapat diberikan terhadap penyakit: Batuk rejan dengan pemberian vaksin pertusis, Tetanus dengan pemberian vaksin tetanus toksin, Difteri dengan pemberian vaksin difteri.

5. Keadaan tubuh sewaktu imunisasi

Sewaktu dilakukan imunisasi hendaknya tubuh tidak boleh dalam keadaan sakit , karena hal ini akan mengakibatkan daya untuk membuat zat anti rendah (Wahidiyat, 2005). Bayi yang sedang sakit berat atau yang pertahanan tubuhnya tidak normal besar kemungkinannya akan jadi sakit atau menjadi karier sehat apabila divaksinasi. Anak yang mendapat kortikosteroid, pasien HIV, anak dengan malnutrisi berat, merupakan contoh anak yang berisiko. Imunisasi polio oral pada anak dengan defisiensi imun akan mengakibatkan pengeluaran virus polio vaksin lebih lama dibandingkan dengan anak normal.

6. Keefektifan Imunisasi

Faktor yang mempengaruhi keefektifan imunisasi adalah :

* Cold chain (rantai vaksin)

Semua peralatan dan prosedur yang diperlukan, agar secara pasti vaksin terproteksi dari suhu dan cahaya yang tidak tepat, saat transportasi sejak dari pabrik hingga saat diberikan ke pasien. Pengawasan cold chain vaksin diperlukan untuk memastikan bahwa telah dilakukan transportasi dan penyimpanan vaksin sesuai rekomendasi pabrik.

* Ketepatan jadwal imunisasi
* Orang yang memberikan imunisasi
* Dosisnya sudah tepat atau sesuai
* Vaksinnya tepat
* Tanggal kadaluwarsa diperhatikan (Ranuh, 2005)



7. Imunisasi DPT

a. Pengertian imunisasi DPT

Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit dipteri, pertusis dan tetanus,dan tidak akan menderita penyakit tersebut.

Imunisasi DPT adalah pemberian kekebalan secara stimulan terhadap difteri pertusis dan tetanus

b. Penyakit dipteri, pertusis dan tetanus

1. Difteri

Di Indonesia dari lima RS di jakarta, bandung, makasar, semarang dan palembang dilaporkan angka kejadian tahun 1991-1996 ada 473 pasien terdapat 45% usia balita, 27% usia <1 tahun, 24% usia 5-9 tahun dan 4% usia di atas 10 tahun. Berdasarkan suatu KLB difteri di kota semarang pada tahun 2003 dilaporkan bahwa dari 33 pasien sebanyak 46% berusia 15-44 tahun serta 30% berusia 5-14 tahun. (Widoyono,2005)

Penyebabnya bakteri Corynebakterium diphteriae. Penyebarannya adalah melalui droplet saat penderita batuk, bersin, dan berbicara. Kuman difteri masuk kedalam tubuh manusia melalui mukosa atau selaput lendir. Kuman akan menempel dan berkembangbiak pada mukosa saluran napas atas. Selanjutnya kuman akan memproduksi toksin yang merembes dan menyebar ke daerah sekitar dan ke seluruh dengan melalui pembuluh darah dan limfe. Gejala awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam tinggi, terjadi pembentukan membran (pseudomembrane) keputihan pada tenggorokan atau tonsil yang mudah berdarah bila dilepas. Peradangan dapat menyebabkan kematian dengan menyumabat saluran nafas. Komplikasi dapat terjadi karena efek toksin dari kuman yang menyerang saraf menyebabkan kelumpuhan, dan menyerang jantung menyebabkan miokarditis. (Widoyono,2005)

Pencegahan dilakukan dengan memberikan imunisasi DPT pada bayi dan vaksin DT (dipteri , tetanus) pada anak usia sekolah dasar . suatu penelitian melaporkan bahwa pada golongan anak yang diimunisasi terjadi infeksi ringan sebanyak 81,3%, infeksi sedang 16,4% dan infeksi berat hanya 2,3%, sedangkan pada anak yang tidak diimunisasi terjadi infeksi ringan sebanyak 19,0%, infeksi sedang 21,5% dan infeksi berat 59,5%. Mortalitas pada anak yang tidak diberi imunisasi empat kali lebih besar dibandingkan anak yang diberi imunisasi.

2. Pertusis

Di indonesia sejak tahun 1991 kasus pertusis muncul sebagai kasus yang sering dilaporkan diantara penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada balita. Pada tahun 1996 tercatat 7796 kasus pertusis dan itu merupakan kasus terbesar sejak tahun 1976. Sekitar 40% kasus pertusis menyerang balita. Akhir-akhir ini dilaporkan bahwa kasus pertusis pada orang dewasa dan KLB pada anak dan remaja semakin meningkat. Estimasi Who menyebutkan bahwa sekitar 600.000 kematian terjadi karena pertusis. Propinsi jawa barat melaporkan 4970 kasus pada tahun 1990 dengan kematian. (Widoyono,2005)

Disebut juga batuk rejan atau batuk seratus hari adalah penyakit pada saluran
pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. B.pertusis termasuk kelompok kokobasilus gram-negatif, tidak bergerak dan tidak berspora. Bakteri ini memerlukan media untuk tumbuh seperti seperti media darah-gliserin kentang (bordet-gengou) yang ditambah penisilin untuk menghambat pertumbuhan organisme lainnya. Bakteri ini berukuran panjang 0,5µm dan diameter 0,2-0,3µm. Bordetella parapertusis menyebabkan penyakit parapertusis yaitu penyakit sejenis pertusis yang gejalanya lebih ringan. Pertusis yang gejalanya biasanya lebih ringan. (Widoyono,2005)

Penyebaran pertusis adalah melalui droplet. Sebagian besar bayi tertular oleh saudaranya dan kadang-kadang oleh orangtuanya. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyerang dengan rata-rata serangan mencapai 80-100% pada kelompok yang rentan. Masa inkubassinya selama 6-20 hari dengan rata-rata 7 hari. Manusia merupakan satu satunya pejamu organisasi ini. Gejala penyakit adalah pilek, mata merah, bersin, demam dan batuk ringan yang lama-kelamaan batuk menjadi parah dan menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras.

Perjalanan penyakit terbagi dalam tiga fase berikut :

* Fase kataralis (1-2 minggu), batuk mulanya pada malam hari, pilek, anoreksia
* Fase spasmodik (2-4 minggu) batu makin kuat dan terus-menerus, gelisah, muka merah, diakhiri dengan dengan bunyi whoop samapi mata menjadi merah atau mimisan. Aktivitas seperti tertawa atau menangis bisa memicu batuk.
* Fase penyembuhan/konvalens (1-2 minggu) ditandai dengan berhentinya bunyi whoop dan muntah. Batuk biasanya masih menetap kemudian menghilang dalam waktu 2-3 minggu. (Widoyono,2005)

3. Tetanus

Menurut SKRT 1995, angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 58/1000 kelahiran hidup. Tetanus menyumbangkan 50% kematian bayi baru lahir dan sekitar 20% kematian bayi, serta merupakan urutan ke-5 penyakit penyebabkan kematian bayi di indonesia. Karena kontribusinya yang besar pada AKB, maka penyakit ini masih merupakan masalah besar bagi dunia kesehatan. Pada tahun 1991-1996 terdapat rata-rata 10-25 kasus per tahun per rumah sakit dengan angka kematian 7-23%. Golongan umur yang paling sering menderita penyakit ini adalah bayi (26%), disusul anak 5-9 tahun (19%), anak balita 1-4 tahun (15%) dan usia lebih >10% tahun (12%). (Widoyono,2005)

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin. Penularan tetanus masuk kedalam tubuh manusia biasanya melalui luka yang dalam dengan suasana anerob (tanpa oksigen), sebagai akibat dari kecelakaan, luka tusuk, luka oprasi, karies gigi, radang telinga tengah, dan pemotongan tali pusat. Masa inkubasinya antara 5-14 hari (rata-rata 6 hari) semakin parah gejala yang timbul. Gejala awal adalah kaku pada otot rahang, disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasinya adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang dapat menyebabkan kematian. Pencegahan dengan imunisasi aktif dengan toksoid, perawatan luka, dan persalinan yang bersih. (Widoyono,2005)

c. Kemasaan vaksin DPT dan jadwal pemberian

Kemasan dalam bentuk vial, 1 box vaksin terdiri dari 10 vial, satu vial berisi 10 dosis, vaksin berbentuk cairan. Cara pemberian imunisasi dan dosis : disuntikan secara intramuskuler dengan osis pemberian 0,5 ml. Jadwal pemberian DTP I, II, III pada umur bayi 2 bln, 3 bln, 4 bln

d. KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Reaksi setelah penyuntikan DPT bervariasi dari ringan sampai berat namun tidak seberat jika menderita penyakit tersebut.

1. KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) ringan (sering): Demam (1 dari 4 anak), merah dan bengkak di tempat suntikan (1 dari 4 anak), nyeri dan perih di tempat suntikan (1 dari 4 anak), rewel (1 dari 3 anak), tidak nafsu makan (1 dari 10 anak), muntah (1 dari 50 anak).Gejala dapat menghilang 1-7 hari.

2. KIPI sedang (Jarang) :Kejang (1 dari 14.000 anak), menangis lebih dari 3 jam (1 dari 1000 anak), demam >40.5’C (1 dari 16.000 anak)

3. KIPI berat (sangat jarang) : Reaksi alergi berat, Kerusakan otak yang permanen (1 dari sekian juta anak, sulit untuk dipertimbangkan sebagai efek samping dari vaksin karena kejadiannya yang sangat jarang).

e. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Status Imunisasi

Menurut Muamalah (2006) , faktor - faktor yang berhubungan dengan perilaku kesehatan, yaitu :

1. Faktor-faktor predisposisi ( Predisposing Factor ) meliputi pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar, tingkat pendidikan, sikap dan ibu bekerja.

2. Faktor pemungkin ( Enabling Factor ) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat seperti puskesmas, posyandu, dan kelengkapan alat imunisasi.

3. Faktor-Faktor Penguat ( Reinforcing Factor )

Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat ( toma ), tokoh agama ( toga ), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan.

4. Keaktifan petugas dalam memotivasi.

5. Kedisiplinan petugas imunisasi.



8. Permasalahan Imunisasi DPT

Menurut Ramli (2008) Namun sampai saat ini, yang menjadi masalah dalam program penegembangan imunisasi adalah drop out dari hasil cakupan imunisasi DPT 3 terhadap hasil cakupan imunisasi DPT 1 masih tinggi. Imunisasi DPT dapt dikatakan berhasil bila bayi/anak telah memperoleh vaksinasi DPT yang ketigakalinya, sebagai imunisasi dasar. Bayi/anak yang telah mendapatkan imunisasi DPT sampai ketigakalinya ini, yang dimaksudkan sebagai pencapaian terget dalam imunisasi DPT. Tingginya kejadian drop out ini, berarti akan mengurangi efektivitas imunisasi ini dalam menimbulkan kekebalan dan melindungi bayi/anak dari penyakit-penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Keadaan seperti ini dengan sendirinya akan mengurangi keberhasilan program imunisasi secara keseluruhan. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, timbul pertanyaan faktor-faktor apakah sebenarnya yang mempengaruhi terjadinya drop out hasil cakupan imunisasi DPT 3 , kejadian drop out imunisasi DPT cukup tinggi antara tahun 1987/1988, keadaan inilah menarik untuk dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap kejadian drop out ini

Faktor tersebut adalah pengetahuan ibu tentang imunisasi DPT, faktor jumlah anak balita, faktor kepuasan ibu terhadap pelayanan petugas imunisasi, faktor keterlibatan pamong dalam memotovasi ibu dan faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi. Agar kejadian dari drop out dari hasil cakupan imunisasi DPT ketiga terhadap hasil imunisasi DPT pertama dapat ditekan serendah mungkin angka drop outnya, maka faktor-faktor di atas harus diperhatikan dan diberi prioritas jika akan melakukan intervensi dengan tujuan untuk mengurangi kejadian drop out (Ramli, 2008)

Daftar Pustaka

_______________________, KepMenKes No.1457 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota ,Jakarta, 2003

Ali,Muhammad , Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Tentang Imunisasi, Medan,2002.http://library.usu.ac.id/modules.php.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI, Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Jakarta, 1997

Ramli,R.M,Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Drop Out/ Tidak Lengkap Hasil Imunisasi di Desa Kesongo Semarang Iawa Tengah Tahun 1988 : Skripsi-1988. http://www.journal.unair.ac.id/

Muamalah, Siti (2006) faktor-faktor yang berhubungan dengan status imunisasi difteri pertusis tetanus (dpt) dan campak http:// digilib.unnes.ac.id

Supraptini,dkk, Cakupan Imunisasi Balita dan ASI Ekslusif di Indonesia ,Hasil Survei Kesehatan Nasional 2001.http://digilib.litbang.depkes.go.id/go

Widyono (2005), penyakit tropis epidemiologi, penularan, pencegahan dan pemberantasan. penerbit erlangga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar