Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Salam kangen Semua..
Berjamaah adalah hal yang sangat manusiawi, kebutuhan untuk mendapatkan lingkungan, teman dan fikroh yang sejalan adalah juga keinginan semua orang dengan segala "warnanya". Alhamdulillah ane mendapatkannya melalui jalan yang Allah tunjukkan kepada BKM Rufaidah, sebuah "komunitas Ghuroba " dimana ketika itu suasana kampus dengan arus duniawinya yang semarak bisa juga menjadi alternatif pilihan bagi mahasiswa baru. Tempat dimana kita saling berinteraksi ini punya banyak kenangan indah bagi ane pribadi, khususnya kenangan dimana kita harus "berpusing ria" mensukseskan program-program kegiatan di sela-sela padatnya jadwal kuliah kita. Tetapi itulah rahasia kemuliaan Allah, dengan ke-Maha kekuasaannya Ia masih bisa membuat hambanya "tersenyum" tanpa harus terlalu larut dalam segala aktivitas itu, dan akhirnya bisa juga lulus walau dengan bersusah payah tentunya.
Ikhwah fillah, sekarang mungkin kita tidak lagi menjadi ADK, dan mungkin pula tidak bersentuhan lagi dengan segala aktivitasnya, akan tetapi ada hal yang harus diingat, bukan hanya target-target dari kegiatan-kegiatan itu yang menjadi fokusnya, setelah tercapai mungkin tidak lagi kita memikirkannya. Tetapi bagaiman kita bisa membiasakan diri berkerja lebih keras, lebih Sholeh, lebih Ihsan, lebih Ikhlas, dan bila itu terjadi berapapun capaian yang Allah berikan kepada kita, itulah Ihsan yang merupakan balasan Allah yang terbaik, dan Allah adalah dzat yang tidak pernah melupakan janjinya, tidak pernah menzalimi ummatnya, Allah adalah dzat yang maha adil, dzat yang maha melaksanakan janjinya.
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Ikhwah fillah, semoga di manapun kita berada, kita selalu ingat akan prinsip ini, prinsip yang telah membuat ummat ini menjadi unggulan, prinsip yang juga telah menjadikan ummat ini pernah memimpin dunia, sehingga kita bisa mengulangi kembali faktor suskses itu.
Tetaplah berdakwa, dimana pun, kapan pun qita berada.. Allahu Akbar!!!
Wassalamua'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
blog ini berisi bidang keperawatan dan taujih/nasehat buat qt smua.. moga bermanfaat ya..
Tampilkan postingan dengan label taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taujih. Tampilkan semua postingan
Minggu, 22 Mei 2011
Surat Sayang Allah..
Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada-KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin ......
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja .......
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-KU, tetapi engkau terlalu sibuk..........
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepada-KU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-KU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya .......
Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menontonTV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU..........
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun nama-KU, kau sebut ...... Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi sedikit waktu untuk menyapa-KU ........
Tapi yang KU tunggu ........ tak kunjung tiba ...... tak juga kau menyapaKU.
Subuh ........Dzuhur .......Ashyar ..........Magrib .........Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU .....tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-KU..........
Apa salah-KU padamu ...... wahai Ummat-KU?????Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU-berikan, harta yang KU-relakan,makanan yang KU-hidangkan, anak-anak yang KU-rahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-KU ............!!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu .....dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-KU .....memohon perlindungan-KU .....bersujud menghadap-KU ......Yang selalu menyertaimu setiap saat ........
Note: apakah kita memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang - orang yang kita sayangi??? Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH SWT...... semata.
Diposkan oleh Tahajud call Comunity jam 20:42
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja .......
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-KU, tetapi engkau terlalu sibuk..........
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepada-KU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepada-KU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya .......
Masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menontonTV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU..........
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun nama-KU, kau sebut ...... Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi sedikit waktu untuk menyapa-KU ........
Tapi yang KU tunggu ........ tak kunjung tiba ...... tak juga kau menyapaKU.
Subuh ........Dzuhur .......Ashyar ..........Magrib .........Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU .....tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepada-KU..........
Apa salah-KU padamu ...... wahai Ummat-KU?????Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU-berikan, harta yang KU-relakan,makanan yang KU-hidangkan, anak-anak yang KU-rahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepada-KU ............!!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu .....dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa-KU .....memohon perlindungan-KU .....bersujud menghadap-KU ......Yang selalu menyertaimu setiap saat ........
Note: apakah kita memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang - orang yang kita sayangi??? Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH SWT...... semata.
Diposkan oleh Tahajud call Comunity jam 20:42
Kamis, 25 Februari 2010
AGAR AKAL TIDAK TERGELINCIR

“ Banyak keadaan orang yang meninggalkan apa yang wajib atas mereka dari amar ma’ruf dan nahyu mungkar dan jihad dengan alasan agar mereka terhindar dari kotoran nafsu dan syahwat. Padahal sebenarnya mereka sendirilah yang telah jatuh dalam fitnah yang lebih besar karena anggapan mereka telah terhindar darinya. Karena yang wajib mereka lakukan adalah melakukan kewajiban itu sendiri sekaligus menghindari hal-hal yang dilarang dalam melakukannya. Kedua-duanya wajib dilakukan ”
(Ibnu Taimiyah)
Ikhwati fillah...
Bagaimana keadaan kita hari ini wahai saudaraku ? tundukkan hati. Ucapkanlah puji dan syukur kita kepada Allah karena hingga saat ini kaki kita masih tetap kuat dan kokoh berpijak di sini. Sebuah perjalanan yang pasti mengandung risiko. Sebuah langkah pasti yang memiliki konsekuensi. Tapi hanya dijalan inilah, di jalan taat kepada Allah, di jalan pengabdian kepada Allah, di jalan pengorbanan untuk Allah semua risiko bisa kita rasakan sebagai sebuah kenikmatan. Maka ungkapkanlah sekali lagi rasa syukur kita itu ” Alhamdulillahi ala kulli haal...” Segala puji hanya untuk Allah atas segala keadaan.
Ikhwati kiraam...
Allah SWT telah mengkaruniai kita akal dan kemampuan berfikir. Akal dan fikiran kita adalah bekal yang teramat mahal dalam hidup ini. Manusia mulia dengan akal dan hina karena akal. Akal kita bukan wahyu, tapi ia menjadi perantara kita mengenal wahyu. Kemampuan akallah yang menjadi faktor utama dalam menilai apakah seseorang sudah wajib melaksanakan perintah Allah SWT atau belum. Fungsi akallah yang menjadi alasan mendasar untuk menimbang apakah seseorang sudah saatnya dikenakan hukuman bila ia menerjang dosa. Akal juga menjadi sarana penting untuk mengetahui jalan yang selamat dan terhindar dari bahaya. Tanpa akal kita tidak mengenal rambu-rambu hidup ini. Dan karenanya, kebodohan yang identik dengan tidak berfungsinya akal adalah musibah terbesar bagi kita.
Ada banyak firman-firman Allah SWT yang mengajak kita untuk menggunakan akal. Kalimat yang mengajak kita untuk menggunakan akal baik dalam bentuk kalimat ” la’allakum ta’qiluun” yang artinya agar kalian berikir, atau ”afalaa ta’qiluun” yang artinya apakah kalian tidak berakal atau berfikir, tersebar dalam puluhan ayat al Qur’an.
Ikhwati fillah rahimakumullah..
Akal juga bisa membuat kita terseret bahaya. Seperti yang dikhawatikan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam katanya kepada Roja’ bin Haywa, ”Wahai Roja’ aku mempunyai akal tapi aku takut Allah mengazabku karena akalku....” (sirah wa manqib umar, Ibnu Jauzi :252). Umar bin Abdul Aziz yang ahli ibadah itu takut sekali dengan kemampuan akalnya yang besar. Khawatir bila kemampuan berfikirnya mendorongnya hingga mengeluarkan alasan merubah larangan menjadi sesuatu yang boleh dan wajar dilakukan. Takut bila potensi berfikirnya berfungsi untuk menghindarkan dirinya dari kewajiban. Was-was bila ketajaman akalnya perlahan-lahan mengajaknya lebih bersandar pada kemampuan diri sendiri ketimbang menyandarkan diri kepada kuasa Allah SWT. Lalu tunduk pada pandangan akalnya sendiri sehingga kehilangan sandaran kuatnya Allah SWT dan meninggalkan benteng kuat yang akan melindunginya, Allah SWT.
Diantara peyimpangan fungsi akal adalah pengesahan pekerjaan yang berdosa tapi menjadi wajar dan lumrah bahkan keharusan. Ini adalah bagian dari fitnah akal yang sangat berbahaya. Praktiknya mungkin jarang dilakukan didepan orang banyak tapi bisa tercetus secara bertubi-tubi dalam hati kita untuk memuaskan dan memenangkan diri sendiri dengan perbuatan dosa yang sudah dilakukan.
Ikhwati fillah rahimakumullah...
Lihatlah bagaimana sikap orang-orang munafiq yang minta izin kepada Rasullah SAW untuk tidak ikut dalam barisan mujahidin karena takut terjerumus fitnah. Mereka berargumen dengan tidak pergi bersama Rasulullah dalam jihad mereka bisa selamat dari fitnah yang membahayakan. Padahal hakikatnya justru merekalah yang terjerumus dalam fitnah tersebut. Kisahnya disebutkan didalam al-Qur’an : ” Diantara mereka ada yang berkata: "Berilah saya keijinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah". Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir ”. (At-Taubah [9]:49)
Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menyinggung masalah ini, untuk menghindar dari penyalahgunaan akal dan pikiran, ia mengatakan sebaiknya kita menghimpun antara ilmu syari’ah dan ilmu tazkiyatun nafs. ”Banyak keadaan orang yang meninggalkan apa yang wajib atas mereka dari amar ma’ruf dan nahyul mung dan jihad dengan alasan agar mereka terhindar dari kotoran nafsu dan syahwat padahal sebenarnya mereka sendirilah yang telah jatuh dalam fitnah yang lebih besar karena anggapan mereka telah terhindar darinya. Karena yang wajib mereka lakukan adalah melakukan kewajiban itu sendiri, sekaligus menghindari hal-hal yang dilarang dalam melakukannya. Kedua-duanya wajib dilakukan”. (Fatawa Ibnu Taimiyah, 28/168)
Ikhwati fillah...
Begitulah akal dan pikiran kita bisa juga menjadi pintu kemaksiatan yang menggeser amal ketaatan. Akal bisa menjadi sarana seorang ujub, sombong lalu membuang sikap tawadhu’ dan rendah hati. Akal dan pikiran bisa membuat banyak alasan agar seseorang boleh melakukan kesalahan yang sebenarnya dilarang tapi dengan argumentasi yang sepertinya memuaskan. Tanpa ketaqwaan dan sikap wara’ kemampuan akal bisa memunculkan sikap melupakan dosa atau menyepelekan dosa, membesar-besarkan suatu ketaatan, piawai menyembunyikan keburukan dan aib-aib diri, merasa lebih baik dari orang lain dan akhirnya tuli dari menerima nasihat dan buta dari mendengarkan kebenaran.
Dahulu para salafushalih telah menemukan satu cara yang sangat efektif untuk mengendalikan akal dan pikiran mereka. Mereka melakukan suatu kebiasaan yang bisa mengarahkan fungsi akal untuk selalu dekat dengan kehendak Allah SWT. Cara yang mereka lakukan adalah dengan melakukan tadabbur dan tafakkur atau merenung dan berfikir tentang ciptaan Allah. Dengan cara itulah mereka menguak banyak ilmu dan memetik buah dari akal yang efeknya bisa lebih mendorong mereka melakukan amal-amal ketaatan. Dengan cara itulah mereka tetap merasa kerdil tidak berdaya dihadapan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Ikhwatifillah .....
Merenungi ciptaan Allah, berfikir tentang diri sendiri, hanyut dalam keheningan untuk memikirkan berbagai kekuasaan Allah adalah ibadah. Sufyan ats-Tauri pernah melakukan tafakur tentang langit hingga ia merasa sangat takut bersedih dan pingsan. Istri Abu Darda yang sangat terkenal dengan kualitas dan kuantitas amal-amal shalihnya mengatakan, ”Keadaannya yang paling banyak adalah tafakkur”.
Ikhwatifillah ......
Akhirnya berhati-hatilah digelincirkan syaithan dengan meninggalkan amal shalih dengan alasan memelihara tawadhu’ dan ikhlas. Berhati-hatilah meninggalkan sebuah tanggungjawab, jika hal itu yang harus kita lakukan, dengan alasan mengutamakan zuhud. Wallahu ’alamu bishowwab
dikutip dari http/pawewetblogs.blogspot.com/2009
Langganan:
Postingan (Atom)